AL MAR’AH, Sedjarah Moe Doeloe…

                Ini kisah tentang sebuah rumah tua.  Letaknya tepat di ujung jalan unlam tiga.  Rumah yang sangat strategis bagi para mahasiswa karena jaraknya yang hanya seujung kuku dengan kampus.  Rumah yang menyejukkan karena di kiri dan kanannya penuh dengan pepohonan.

Ada jambu bol di sisi belakang yang selalu menggoda warna bunga dan buahnya.  Juga rambutan di sisi kiri dan kanan rumah, yang jika sudah masak jadi sasaran untuk “dijuluki”1 buahnya.  Tak lupa pohon mangga di sisi kiri yang masih kecil dan baru belajar berbuah tapi sudah dipanen muda oleh penghuninya yang hobi ngerujak.  Ahhh…disekitar sini juga ada pohon petai, hehe….

Sementara di sisi kanan, ada kelapa yang pelepahnya sering mengotori halaman.  Juga cempedak yang selalu busuk sebelum masak.  Ada juga pohon bunga yang tak kutahu namanya.  Namun sangat cantik.  Daunnya yang panjang jika dipetik akan mengeluarkan getah.  Bunganya yang berwarna kuning sangat kontras dengan warna hijau tua daunnya.

Bunga-bunga lainnya juga banyak tumbuh disini.  Dari tanaman berduri sampai bunga November, juga ada beberapa caladium bicolor.  Itu hanya sebagian…masihhh banyak lagi yang lainnya, termasuk rumput yang bergoyang, wkwkwk….

Sebagian besar bunga-bunga ini adalah hasil karya para penghuninya yang super kreatif, kadang rajin dan kadang kumat penyakit “koler”2nya, hehe….^_^V

Penasaran kan…ini sebenarnya rumah siapa???

Ayo…ngaku aja deh!!!

Ku kasih clue-nya ya….  Ini adalah rumah bersejarah pastinya!!!  Bersejarah bagi para penghuninya maksudku, hehe…^_^V

Penghuninya adalah mahasiswi-mahasiswi beraneka ragam bentuk dan ukuran.  Dari yang putih sampe yang item manis, dari yang imut-imut mungil sampe yang tinggi menjulang.  Ada yang gemuk, kurus juga banyak!!!

Nah lho…???  Ayo, sudah tau jawabannya?  Kalo’ masih kurang, biar kuberikan clue berikutnya.  Meskipun berbeda-beda namun mereka tetap satu juga.

Hah?  Apanya yang satu?  Pertama, bisa diidentifikasi dari pakaiannya yang serba lebar.  Dua pakaian wajib saat keluar rumah yaitu jilbab dan khimarnya tak pernah dilupakan.  Lalu yang kedua, pemikirannya yang selalu mereka usahakan untuk bersandar pada aqidah Islam.  Dan yang ketiga, biasanya sih aktivis dakwah kampus.  Entah di fakultas ataupun universitas, sikattt!!!

Terbayangkah???  Yup, anak-anak unlam tempoe doeloe rata-rata pasti tahu rumah itu!  Rumah di ujung jalan yang tak hanya sejuk karena rindangnya pohon tapi juga rumah yang sejuk karena para penghuninya.  Cieee…bener gak seh???

Rumah itu bernama Al-Mar’ah….

Dari namanya saja sudah ketahuan kalo’ itu adalah kost akhwat alias kost putri.  Pemiliknya adalah dosen di kampus mereka sendiri.  Si Bapak yang merangkap PD III selalu care dengan para penghuni kost-nya yang baik hati, hehe….  Si ibu juga sama, selalu anggun menanggapi permintaan anak-anak kost-nya yang bawel.

Al Mar’ah tak sama dengan kost-kost yang lain.  Disana ada ibu RT yang dipilih untuk memimpin para penghuni lain dalam kebaikan.  Biasanya sih, ibu RT pilihan bersama ini adalah senior, biar agak berwibawa gitu, hehe….^_^V

Setiap ba’da maghrib, selalu ada kegiatan yang dijalankan.  Dari mulai hafalan qur’an, hafalan hadits, diskusi Al-Islam dan lain-lain.  Biasanya kalau jadwal hafalan tiba, banyak yang juga tiba-tiba mules.  Penyebabnya cuma satu…lupa menghafal!  Padahal sudah lama dipajang sang penanggung jawab acara di papan pengumuman.  Jadilah ditunda ba’da isya atau subuh.  Tapi tak masalah, asalkan jalan terus!!!  Begitu mottonya!

Dan hanya tamu perempuan saja yang diperbolehkan masuk ke dalam sementara tamu laki-laki diterima di teras.  Kecuali keluarga dan atas izin penghuni lainnya.  Itu sudah kesepakatan bersama!

Alamiahnya sebuah rumah, ia tak selamanya sejuk tentu saja.  Seperti rumah lainnya juga, ada-ada saja masalah yang melanda.  Al-Mar’ah tak bisa menolaknya.  Dari mulai fisik hingga non fisik.  Secara fisik, entah listrik lah, pipa ledeng lah, kamar mandi yang tersumbat lah, dan masih banyak lagi lainnya, tentu merupakan perkara biasa.

Namun masalah non fisik yang biasanya berkaitan dengan kebiasaan dan karakter para penghuninya yang banyak dan beranekaragam inilah, yang sering membuat pening kepala.  Salah paham, cekcok, perang mulut dengan bahasa ngakhwat juga sering terjadi, hehe….^_^

Biasanya ibu RT yang selalu jadi sasaran massa.  Berat…jadi ibu RT.  Jika tak sabar pasti ikutan esmosi!  Kalo nngak percaya…tanyakan saja dengan mantan ibu RT?  Ya tho???  Wkwkwk….

Para akhwat bijak yang jadi ibu RT inilah tempat berkeluh kesah para penghuninya.  Setiap orang minta diperhatikan kepentingannya, padahal kepentingan si ibu RT sendiri sering dilupakan oleh saudarinya yang lain.  Ckckck…derita ibu RT nih!

Dan keunikan lainnya, Al-Mar’ah selalu menjadi magnet untuk para mahasiswi baru.  Seperti yang kugambarkan di awal tadi, posisinya yang strategis membuatnya selalu menjadi kost most wanted lah!  Antrian panjang menanti penghuni lama yang hampir lulus.  Harus di“tek”3 dulu supaya bisa dapat kamar, sungguh luar biasa kan???  Hehe….^_^

Dan ia sudah bertahan sejak doeloe kala, melindungi para akhwat aktivis dakwah kampus yang datang merantau ke kota idaman ini.  Penghuni angkatan pertama bahkan sudah beranak tiga atau empat.  Saat rumah binaan akhwat yang lain tergusur karena kehilangan satu per satu penghuninya, Al-Mar’ah tetap ada dan bertahan.  Ia jadi ikon rumah akhwat.  Setidaknya keberadaannya bermakna “sesuatu”.

Penetral suasana aneh lingkungan kost-kost an yang biasanya penuh kebebasan hingga kebablasan adalah salah satunya.  Tetangga sekitar Al-Mar’ah biasanya malu gaul bebas karena terbawa suasana kondusif rumahnya.  Agak aneh memang, kenapa harus malu dengan manusia saat berbuat kejahatan?  Sementara tak malu dengan Allah yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dan terang-terangan sebuah kejahatan itu dilakukan, ya kan?

Namun setidaknya…anggap saja Al Mar’ah adalah bagian dari pilar penyangga  kontrol sosial di tengah masyarakat sekitarnya.  Baik itu dengan perilaku para penghuninya atau pun dengan lisan mereka.

Tanggapan masyarakat beragam pula dengan kehadiran Al-Mar’ah sebagai kost-kost an putri yang sangat menjaga harga diri.  Yang bersuara positif banyak, namun yang bersuara sumbang alias negatif pun tak kalah nyaring didengar.  Dari yang agak pedas sampai yang hot…ekstra pedas, sudah pernah terlintas.  Bagaimana pun opini masyarakat tentang mereka, Al-Mar’ah dan para penghuninya masih tetap eksis.

Itu doeloe….  Bagaimana dengan sekarang?

Saat bulan Rajab 1432 H lalu aku mengunjunginya, ia masih ada (ya iyalah, siapa juga ya yang bisa mencabutnya? Hehe…).  Maksudku bangunannya masih ada, berdiri kokoh dengan kesan tuanya yang bersedjarah itu.  Setidaknya aku masih sempat numpang shalat sekaligus nostalgia disana.  Namun penghuninya yang unik sudah sangat sedikit.  Entah hilang karena lulus atau hilang karena terbawa arus, belum ada investigasi lebih lanjut!  Yang kudengar dari cerita tetangga, mereka sungguh menyayangkan suasananya yang tak seperti doeloe lagi.  Bahkan Bapak kost yang dulu selalu merasa aman dengan anak-anak kost-nya yang menjaga diri kini sering kebakaran jenggot dengan ulah penghuni barunya!

Bulan Muharram 1433 H, beberapa hari yang lalu tepatnya, aku hanya bisa ikut parkir di halamannya.  Apa yang terjadi?  Sudah robohkah bangunan Al-Mar’ah???

Secara fisik, ia masih berdiri kokoh.  Namun ruhnya sudah roboh.  Tak ada lagi satu pun penghuni Al-Mar’ah yang seperti doeloe.  Ia pada akhirnya tak ubahnya seperti kost-kost an lain yang mengabaikan tata pergaulan dalam Islam.  Al-Mar’ah bermetamorfosa menjadi kost-kost an putri biasa.  Tak ada yang khas, tak ada yang istimewa selain pada posisinya masih menjadi urutan pertama dalam daftar pencarian kost.

Rumah itu…punya sejarah panjang dalam ingatan setiap penghuninya.  Banyak kenangan yang tercatat dalam sebuah rumah tua bernama Al-Mar’ah ini.  Suka, duka pernah dilewati bersama.  Cerita yang mengalir tentangnya akan membawa setumpuk rasa rindu buat rumah dan mantan penghuninya.  Aku salah satunya!

Ahhh, Al-Mar’ah…sedjarah moe doeloe telah berlalu!!!

Renungan sesaat yang melintas waktu duduk di depan warung sebelah Al-Mar’ah.

Miss u…para penghuni Al-Mar’ah!!!  ^_^V

Cat :

1Dijuluki               =  diambil buahnya dengan menggunakan galah kayu atau bambu

2Koler                    =  malas

3Di tek                   =  dipesan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s