AIR MATA ATAS NAMA AMANAH

Air mata ini tiba-tiba jatuh begitu saja.  Air mata ini turun tanpa di-setting terlebih dahulu.  Air mata ini mengalir deras hanya beberapa saat setelah membaca sebuah pesan singkat.  Allahu Rabbi…amanah di pundakku bertambah satu lagi!

Inbox fb, sms hingga telfon dari saudari-saudari seperjuangan mengucapkan barakallah….  Mengungkapkan harapan-harapan mereka yang membuat amanah ini bertambah berat, padahal baru beberapa saat yang lalu dibebankan padaku.  Bertanyalah aku pada diriku sendiri,  “Brina…akankah kamu mampu memikulnya?  Akankah kamu sanggup mempertanggungjawabkannya?  Akankah kamu akhirnya memberikan kontribusi positif atas amanah yang diberikan?  Akankah…akankah Brina???”.

Berbagai pertanyaan itu berseliweran di kepalaku, mengiang di telingaku dan hanya memberi sedikit waktu untuk mencernanya.  Aku Diam….  Jeda sesaat.  Dan akhirnya pertama kali terjawab dengan air mata yang tumpah tanpa diminta.

Subhanallah…betapa sebuah perjuangan menuntut kita selalu siap setiap saat.  Beberapa hari lalu aku dihadapkan pada sebuah pilihan.  Maju untuk sebuah kebaikan tanpa sengaja atau mundur membiarkan pahala melewatiku begitu saja.  Idealnya, amanah ini bukan amanah yang (menurut perhitunganku sendiri) bisa kupikul.  Amanah ini terlalu berat, terlalu sayang jika aku yang harus memegangnya.  Masih banyak saudari-saudariku yang lebih mumpuni dibandingkan aku, Shabrina yang begitu banyak kekurangannya, yang bahkan seringkali lalai dalam amanah.

Perasaanku sudah seperti gado-gado, campur aduk!  Aku malu!!!  Ingin mengatakan pada saudari yang memilihku…”Sist, dengan segala kekuranganku masihkah kau percayakan aku amanah berat ini?  Sebenarnya kamu lebih pantas memikulnya daripada aku!”.  Aku pun takut!  Ingin pula mengatakan pada saudari yang memilihku…”Sist, tak kasihankah kau padaku?  Amanah yang ada saja kupikul terseok-seok.  Lalu bagaimana mungkin ditambah baru?  Jangan-jangan aku takkan sanggup mempertanggungjawabkannya???”.  Lalu aku menangis lagi!

Namun saat mata sudah sembab, hidung meler dan air mata menyusut, tangis mereda…sebuah dialog batin berlangsung dikepalaku.  “Brina…ini kesempatan baik untukmu.  Lihatlah…betapa Allah SWT sayang padamu!  Ia memberikanmu kesempatan untuk meraih pahalanya lebih dan lebih lagi untuk amanah besar!  Tidakkah kau ingin mengejarnya?”.

Ya…benar, aku berusaha meyakinkan diri.  Namun suara lain muncul dengan lantang…”Iya, kalo kamu bisa menjalankan amanah tapi kalo nggak gimana?  Tahu kan bakal dapat murka-Nya???”.  Dan air mataku menetes lagi satu persatu.

“Berarti berusahalah sekuat tenaga, Brina!  Optimalkan potensi diri yang selama ini belum tersalurkan.  Bukankah kemarin kau berdoa agar diberi hasil yang terbaik?  Mungkin inilah jawabannya!  Allah ingin kamu memulai langkah baru yang lebih, lebih dan lebih baik lagi di tahun baru ini…”.

Aku pun bisa tersenyum!

Hati kecil yang membisikkan betapa banyak kekurangan dan ketidaklayakanku masih saja bersuara.  Namun begitu banyak pula harapan yang ingin kupeluk esok hari dari proses menjalani amanah ini.  Maka keraguan yang menggelayuti hari-hari terakhir ini pun sirna.  Sebagai manusia yang lemah, bukankah wajar jika dilema menghadapi pilihan didepan mata?  Dan saat detik-detik akhir menjelang, keyakinan pun tiba-tiba membentang.

Sudah saatnya berhenti menangis!  Sudah saatnya berhenti menyalahkan!  Dan sudah saatnya mulai memikirkan langkah selanjutnya!  Apa yang akan kulakukan…?  Apa proker selama rentang waktu amanah ini kupikul?  Apa yang bisa kuperbuat agar daerah ini semakin kuat dalam dakwah dan janji Allah SWT bisa sama-sama segera diraih?

Maka demi diri sendiri…aku maju!  Demi diriku yang menginginkan ridho Allah.  Demi diriku yang memohon pengampunan-Nya atas kelalaian dan dosa-dosa yang menggunung selama ini.  Demi diriku yang takut neraka-Nya.  Demi diriku yang merindukan jannah-Nya.

Aku maju karena tak sengaja.  Tapi aku akan berusaha menjalaninya dengan kesengajaan bersungguh-sungguh.  Maka ingin kukatakan satu hal lagi pada saudari yang memilihku…”Sist, jazakumullah khairan katsir atas kepercayaan kalian padaku yang berkekurangan.  Terima kasih telah memberikanku kesempatan memproses diri.  Dan mohon bantuan dari semuanya sehingga amanah ini tak lagi terlalu berat memikulnya.  Aku saat ini senasib dengan paman sopir speedboat yang mulai berjalan di tengah hujan berpetir.  Jika kalian membiarkanku berdiri sendirian di depan agar speedboat itu “naik” maka aku takkan mampu.  Beratku hanya 49 Kg.  Sementara jika kalian semua membantuku dengan mencondongkan badan ke depan maka gaya berat kalian akan membuat speedboat stabil.  Dan speedboat itu akan melaju…mengantarkan kita pada tujuan”.

Ya Rabb…mudahkanlah segala urusan kami.  Aamiin…^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s