waiting 4 u...

MISS EXPIRED???

Miss Expired?  Apaan tuh???  Istilah ini mungkin tak asing bagi sebagian kaum hawa.  Tapi bagiku pribadi…kata-kata ini baru muncul dalam perbendaharaan “istilah”-ku.  Jujur, aku baru kenalan beberapa hari yang lalu dengannya.  Nggak sengaja lagi!  Beneran!!!

Expired?  Kalau kata-kata ini sih…aku kenal banget!  Biasanya selalu dicantumkan pada label makanan atau minuman yang kita beli.  Aku yakin…kamu pun pasti selalu memperhatikan tanggal expired ini pada saat mengkonsumsi sesuatu.  Ya kan?  Dan jika belum, maka perhatikanlah sekarang!  Akan kamu temukan tanggal kadaluarsa atau expired-nya.  Biasanya seh tulisannya disamping kode produksi.

So…gimana dengan miss expired?

Nah, menjawab pertanyaan ini mungkin harus dengan pertanyaan baru lagi?

“Gimana sih, Brina?  Kamu sengaja mo bikin bingung?”, pikirmu.

“Oh, bukan kok!  Sabar dulu lah say…kan aku belum selesai ngomong, ok?”.

Ini dia pertanyaannya, eng ing eng…apa yang paling menakutkan bagi seorang perempuan muda yang berpendidikan, dinamis, memiliki karier gemilang dan tentu saja mapan?  Ternyata jawabannya adalah kadaluarsa atau kalau dalam bahasa inggris disebut expired – sebagaimana yang kubilang tadi, sering tertulis di label makanan atau minuman.  Istilah yang berarti telah melewati batas waktu penggunaan yang semestinya.

Menjadi kadaluarsa berarti tidak enak lagi dinikmati bahkan bisa membahayakan kesehatan.  Sesuatu yang kadaluarsa tidak akan lagi diminati orang, apalagi dibeli!  Karenanya, yang sudah kadaluarsa akan teronggok begitu saja, kalah bersaing dengan yang belum kadaluarsa.  Hingga akhirnya yang kadaluarsa ini menghilang atau sengaja dibuang.

Intinya sih…miss expired ini = perempuan telat nikah = perempuan kadaluarsa!  Ckckck…sumpah deh, aku baru tahu ada istilah yang beginian!  Perawan tua…mungkin biasa kudengar tapi expired, sungguh baru tahu kemaren!

“Kalau bojo-nya si Imron iki wes expired…”, kalimat ini masih terekam jelas dalam ingatanku.  Seorang senior, mengomentari  istri temannya.  Yang dikomentari hanya senyam-senyum pasrah.  Sementara aku, yang mendengar komentar…bingung!  Expired?  Apaan tuh?

Baru…setelah dipikir beberapa saat akhirnya aku mengerti!  Istrinya Mas Imron memang sepuluh tahun lebih tua darinya.  Aku bahkan sudah kenal lebih dulu dengan istrinya daripada dengan kolegaku ini.  Berpendidikan, cantik dan mapan cukup untuk menggambarkan sosoknya.  Meski demikian, ia dimasukkan dalam jajaran perempuan yang telat nikah alias expired tadi.

Apa yang terpikir olehmu kemudian?

Ya, perempuan memang punya jam biologis.  Kodratnya untuk melahirkan keturunan memberikan batasan-batasan usia dimana kemampuan itu ada, berakhir atau bahkan belum dimulai. Makanya kemudian ada masa-masa yang secara ilmiah terbukti merupakan saat terbaik untuk memiliki keturunan, termasuk juga untuk memberikan ASI.  Inilah yang sering dijadikan alasan bagi perempuan untuk “mengejar target” menikah.

Dan secara psikologi, melajang di usia matang bagi perempuan sungguh tak mengenakkan.  Bagaimanapun menikah merupakan kebutuhan fitrah setiap manusia, tak terkecuali kaum hawa.  Tidak terpenuhinya kebutuhan ini memang tidak akan menyebabkan manusia (baik laki-laki maupun perempuan) sampai pada kematian.  Kecuali ia menenggak racun, lompat dari gedung lima lantai dan aktivitas ekstrim lainnya dalam rangka bunuh diri.  Betul???

Namun…tak terpenuhinya gharizah nau (naluri mempertahankan jenis) ini dapat menyebabkan kegoncangan jiwa alias kegelisahan yang mendalam.  Apalagi jika ditambah dengan budaya dan paradigma yang berkembang di masyarakat, selalu memojokkan perempuan lajang.  Seperti yang kuceritakan tadi, sebutan perawan tua, tidak laku, miss expired dan entah sebutan apa lagi semacamnya menjadi brand image mereka yang belum menikah.  Belum lagi tuntutan dan pertanyaan berulang dari keluarga, tetangga kiri-kanan, teman, dll yang bikin sebel, “kapan nikah?”.  Hhhhh….:-(

Bagi wanita normal, keluarga tentunya adalah harapan dan cita-cita.  Keluarga merupakan tempat mengabdi yang membawa ketentraman hati.  Anak-anak adalah amanah pembawa kebahagiaan dan keceriaan.  Maka wajar jika setiap perempuan didunia menginginkan adanya fase menikah dalam hidupnya.  Tetapi masalahnya…menikah tak bisa dilakukan sendiri or sepihak aja.  Menikah…tentunya perlu pasangan!  Nggak mungkin kan kita kirim undangan nikah tapi calonnya masih bertanda * (baca : bintang) alias dalam konfirmasi?

Nah, pasangan ini yang nyatanya tak mudah untuk ditemukan.  Banyak faktor yang mempengaruhi tentunya.  Kriteria tidak sepadan, kuantitas tidak terpenuhi atau mungkin juga karena takdir.

Dalam sebuah drama musikal lawas yang tak pernah kutonton langsung, seorang bapak menggunakan wine sebagai analogi.  Minuman yang terbuat dari anggur ini tidak mengenal batas kadaluwarsa.  Bahkan konon kabarnya makin lama rasanya makin enak dan harganya makin mahal.  Dan si anak pun menyahut sinis, saking mahalnya tidak akan ada yang mampu membeli wine itu.

Sebuah kenyataan : ada kadaluarsa yang tidak dibeli karena tidak enak tapi ada juga kadaluarsa yang sangat enak tapi tidak dibeli karena harganya sangat mahal.  Ckckck…susah juga ya?

Lalu gimana dunk sikap kita?  Apalagi dengan kondisi sekarang, dimana perempuan lajang di usia matang menjadi sebuah fenomena….

Bagi para perempuan lajang…bersabar, menunggu dan bertakwa.  Jawaban ini memang klise.  Tapi itu bukan hal yang salah kan?  Sepakat?  Baiklah….

Dan mungkin juga karena itulah Allah SWT memperbolehkan poligami bagi laki-laki.  Agar perempuan bisa merasakan kebahagiaan menjadi ibu dan istri, meski dengan berbagi suami.  Pendapat ini pun aku tak menolaknya.  Wong Allah SWT yang memperbolehkan kok, mana mungkin kita sebagai makhluk berani menentangnya.  Ya kan?

Lalu apakah hanya itu yang bisa kita lakukan?  Tentunya tidak!  Guru ngajiku pernah bilang gini, “kalau dipikir-pikir, betapa beruntungnya kita.  Menjadi salah satu yang tertunjuki cahaya Islam lalu berusaha mengamalkannya.  Apapun yang terjadi selalu ada filter dari pemikiran kufur yang ditanamkan ke benak kita.  Maka hasilnya… Jika kita anak…maka takkan putus birrul walidayn terhadap orangtua.  jika jadi istri, kita adalah istri dambaan pria beriman.  Istri yang faham hak dan kewajibannya.  Sebagai ibu, kita adalah ibu ideologis pencetak generasi mujahid-mujahidah tangguh.  Melahirkan sosok layaknya Al-Fatih yang tak henti berjuang demi kemuliaan Islam.  Menjadi ibunya para mujahid…seperti Khansa.  Dan kalaupun ternyata…jika kita belum diberi kesempatan untuk mengemban amanah sebagai istri dan ibu, hanya sebagai wanita single…yang tak tahu kapan status itu akan berakhir, maka kita wanita single yang produktif.  Menjadi seorang pengemban dakwah Islam yang amanah!”.

Hohoho…berat neh, hehe…^_^V

Apa artinya?  Artinya…yuk, ngaji Islam!  Hehe…terjemah bebas nih!  Bukan ngaji baca qur’an doang tentunya.  Tapi mengkaji pemikiran-pemikiran Islam sehingga kita menjadi muslimah yang taat syariah.  Taat terhadap perintah dan larangan Allah SWT, sang pencipta dan pengatur alam semesta, manusia dan kehidupan ini.

Jika kita renungkan kata-kata guru ngajiku tadi, menjadi lajang sebenarnya bukan aib kok!  Menjadi lajang malah bisa membuka pintu amal dan manfaat bagi diri dan ummat.  Seorang wanita lajang lebih mudah bergerak dan beraktivitas karena belum dibebani tugas kerumahtanggaan.  Itu dapat jadi bekal untuk berbuat lebih banyak bagi ummat dengan modal waktu, peluang dan potensi yang dimiliki.

Jadi…buat kamu, para wanita lajang…ayo, kita manfaatkan waktu “kesendirian” ini seoptimal mungkin.  Barangkali Allah SWT sedang menyiapkan kita untuk jadi sosok terbaik sebelum melakoni peran sebagai ibu dan manajer rumah tangga.

Kita bisa tetap bermakna meski belum berstatus ibu rumah tangga.  Kita masih bisa menjadi manusia yang berguna bagi ummat dengan upaya penyadaran yang kita lakukan tanpa harus meminta pengertian semua orang.  Tanpa perlu terus menuntut dan meminta laki-laki untuk menikahi kita ataupun berpoligami.

Sekarang…tinggal kita yang memilih, apakah kita hanya akan diam dan membenarkan anggapan layaknya makanan – dianggap kadaluarsa, expired oleh masyarakat tanpa melakukan apa-apa.  Ataukah kita mengambil peran, menjadi muslimah tangguh yang bermanfaat bagi ummat?

Bagiku, tak ada yang expired selama seorang perempuan terus berkarya dan melakukan banyak hal untuk banyak orang.  Kecuali jika dia sengaja memilih menjadi expired dengan hanya teronggok dan tak berguna hingga akhirnya menghilang begitu saja.  Mau???  Ogah lah ya, hehe…^_^V

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s