Bukan Perempuan Biasa

Anak perempuan itu berumur tiga belas tahun saat orang tuanya meminta ia menikahi sepupu duanya, anak laki-laki dari paman lewat jalur ayah.  Ia baru beberapa hari merayakan kelulusannya dari sekolah dasar.  Sudah menjadi adat sukunya, seorang perempuan seumurnya untuk menikah.  Dan calon suaminya pun sudah ditentukan oleh keluarga.  Perangkat pernikahan sudah disiapkan jauh-jauh hari.  Semuanya gembira menyambut pesta pernikahan ini kecuali si perempuan muda, calon pengantin.

Bukan karena ia tak suka dengan tunangannya.  Bukan!  Tapi…saat itu belum terlintas pikiran untuk menikah.  Ia masih ingin melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah pertama.  Lalu masuk sekolah perawat.  Ia benar-benar ingin menjadi perawat.  Mengenakan seragam putih dan berlarian di lorong rumah sakit mengejar pasien baru yang datang.  Ia benar-benar ingin menjadi perawat.  Menyediakan berbagai keperluan dokter saat mengobati pasien.  Pokoknya ia benar-benar ingin menjadi perawat.

Tapi bagaimana bisa?  Jauh sebelum ia mengungkapkan keinginan ini, orangtuanya sudah memberinya peringatan agar tak perlu bermimpi.  Bagaimanapun ia paham, orangtuanya hanya petani yang bergantung pada alam.  Hidup di pedalaman pulau bernama Kalimantan, di sebuah desa yang jauh dari keramaian.  Untuk ke ibukota kabupaten ia perlu biaya yang tak sedikit.  Belum lagi biaya masuk sekolah.  Lalu biaya hidup.  Banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk melanjutkan pendidikan!  Lalu apakah ia menyerah???

Seminggu sebelum upacara adat pernikahan, ia diminta mengantar padi untuk seorang saudara di kampung sebelah.  Berangkat dengan berjalan kaki ia memanggul takin1-nya yang berisi padi.  Baru separuh jalan ia menaruh bawaannya.  Melanjutkan perjalanannya dengan setengah berlari.  Di tempat yang sudah ditetapkan…pamannya dari pihak ibu, sudah menunggu.  Begitu melihat sang keponakan berlari menyongsong kelotok2, beliau langsung membuka dok dan memasukkannya kesana.  Disembunyikan dari penumpang lain hingga sampai ditempat yang diperkirakan aman dan tak tersusul lagi.  Si perempuan muda, calon pengantin…kabur!

Ia melarikan diri hanya dengan membawa sehelai pakaian dibadan dari kampung halaman tempat ia lahir dan dibesarkan.  Meninggalkan orang tua, saudara dan calon suami, dibantu pamannya.  Ia tetap nekad…ingin melanjutkan sekolahnya di ibukota kabupaten.  Bagaimanapun itu adalah impian yang layak diperjuangkan.  Sepedih apapun jalannya!

Nah, itu adalah sepenggal cerita yang sering kudengar saat kecil.  Salah satu dongeng pengantar tidur atau cerita sambil lalu yang dibenarkan orang-orang yang berkumpul untuk mengenang kembali kisah itu.  Nostalgia mungkin?  Begitulah…cerita itu menjadi inspirasi buatku.  Bukan untuk meninggalkan calon pengantinku tentunya, hehe….  Tapi untuk memperjuangkan mimpi-mimpiku.  Memperjuangkan hal-hal baik yang kuinginkan dalam hidup ini.  Melakukan yang terbaik yang aku bisa.

Hidup ini tak mudah.  Banyak rintangan menunggu dijalan yang kita lewati.  Dunia kapitalis dimana orang kaya dan berkuasa hidup nyaman sementara orang miskin semakin tak berdaya.  Perempuan muda tadi hanya satu diantara ribuan perempuan yang mengalami nasib serupa.  Lahir ditengah keterbatasan dan memimpikan perbaikan taraf hidup dengan menjadi pintar.  Untuk pintar harus sekolah.  Sementara sekolah memerlukan banyak biaya.  Dengan apa ia harus membayarnya?  Dan apakah akhirnya ia berhasil menjadi perawat?

Keluarga tak mampu.  Negara abai.  Hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk memeluk mimpi.  Jawaban pertanyaan itu hanya ada dua untuk orang-orang seperti perempuan ini.  Bagi yang beruntung…akan seperti nasib Ikal dan Arai yang berhasil menginjakkan kaki di Sorbonne, Prancis.  Sementara bagi yang kurang beruntung…akan seperti Lintang yang harus merelakan potensinya menguap.

Tapi…bagaimanapun akhir perjalanan itu, setidaknya harus mengerahkan segenap kekuatan dulu.  Tak berhasil dengan satu cara, harus mencari cara lain.  Intinya tak pernah berhenti berjuang!  Selelah apapun kaki berjalan, seberat apapun beban dipikul…harus tetap melanjutkan langkah.  Perjuangan perempuan itu terus menyemangatiku mengambil berbagai keputusan penting dalam hidup.  Saat ragu, saat kehilangan asa dihimpit beban hidup, dan saat-saat lainnya.  Jika setelah diperjuangkan masih belum bisa terwujud, mungkin itu saatnya berdamai dengan nasib.  Alias ridha dengan qadha’ Allah SWT.

Bagaimanapun perempuan ini…bukan perempuan biasa.  Ia tak mudah menyerah dan putus asa.  Ia membuatku selalu berjuang seperti ia memperjuangkan semua mimpi dalam hidupnya.  Ia juga memberiku ingatan yang dalam tentang “indahnya” perjuangan.  Maka aku tak mau berhenti!  Bahkan jika aku ingin berhenti…aku selalu akan mulai lagi!  Semua karenanya.  Dialah Emakku!

Hidup ini memang tak selalu punya jawaban seperti matematika.  Tetapi jika kita menelitinya seperti memecahkan aljabar maka pasti akan ada penyelesaiannya.  Ya kan, Mak? ^_^

Cat :

1Takin    =  Sejenis tas yang sering digunakan suku dayak, dibuat dari rotan, talinya dari kulit pohon, biasanya dibawa dengan menyampirkan talinya ke dahi

2Kelotok=  Perahu bermotor yang ada atapnya, salah satu alat transportasi sungai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s