Pretty Woman

Pernah nonton PRETTY WOMAN?  Yup, film Hollywood jadul yang dibintangi Julia Robert dan Richard Gere ini pernah tenar di zamannya.  Tenang…aku bukannya mo mengulas film jadul ini.  Kalian bahkan ada yang sudah hafal diluar kepala ceritanya.  Hanya teringat satu kejadian lucu yang mirip film ini….

“Hah…emangnya ada milyuner yang jatuh cinta ma kamu, Brina?”, pasti itu yang ada dibenak salah satu dari kalian.

Jawabannya…”bukan!!!”.

“So what gitu loh..???”, lanjutmu lagi.

Jadi begini ceritanya…kejadian ini terjadi beberapa tahun yang lalu.  Gara-gara si Adel tadi “minta dilihatin” jadi teringat lagi deh kisah pretty woman versi kami, hehe….  Biasa…dia bikin kasus yang bikin ngakak, makanya kekonyolan kami yang lalu-lalu pun jadi terbayang juga, wkwkwk….^_^V

Ini cuma kisah diantara kesibukan hari-hari kami sebagai mahasiswi.  Tapi mengenangnya masih merasakan manis asem asinnya, kayak permen yah?  Hehe….  Aku sama saja seperti anak kuliahan lainnya yang ngekos dan mengirit biaya kosku dengan berbagi kamar.  Nah, teman sekamarku ini adalah juniorku meskipun beda fakultas.  Namanya ya  si Adel tadi.

Singkat cerita, adeknya si Adel ini minta dibelikan laptop.  Maka…berangkatlah kami hunting laptop ke Banjarmasin.  Sebenarnya sih dari Banjarbaru ke Banjarmasin kan cuma 45 menitan.  Tapi hari yang kurang bersahabat membuat kami basah kuyup.

Dan seperti motto waja sampai ka puting, kami pun maju terus, hehe….  Target membelikan si adek laptop tetap harus dijalankan.  Maka kami dengan pedenya menjalankan misi mulia ini.  Menjelajahi satu toko komputer ke toko komputer lainnya.  Menanyakan harga laptop dengan spesifikasi yang sudah dipesan si calon empunya barang.

Kami tak ingat lagi sudah keluar masuk berapa toko.  Yang pasti…di satu toko terakhir sebelum kami membeli, ada kejadian yang membuat kami merasa gimanaaa…gitu!  Kami masuk dan duduk dengan pedenya, menanyakan laptop yang ingin dibeli.  Dan si mbak penjualnya yang cantik dan menarik dengan seragam hijau mudanya tampak melayani kami ogah-ogahan.  Ditanya apa…jawabannya nggak jelas.  Kami dicuekin!  Idih…dicuekin itu pedih jendral, eh…mbak maksudnya!  Akhirnya daripada bête mending langsung nanya harganya aja…biar cepet beres.  Kebetulan yang kami cari pas ada disana.  Nah, akhirnya si Adel nanya gini…”mbak, harganya yang ini berapa ya?”.  Logikanya kan pertanyaan ini mudah sekali jawabannya bagi si mbak.  Tapi rupanya sulit.  Dalam hati aku bilang…”mbak, kalo lupa tinggal liat catatan kaleee!”.  Tapi si mbak itu lagi-lagi masih pura-pura sibuk dan mengeluarkan suara-suara yang nggak jelas.  Jadi si Adel mengulangi lagi pertanyaannya.  Dia berhusnudzan…mungkin mbaknya nggak denger.

“Mbak…yang ini berapa harganya?”, Adel agak mengeraskan volumenya biar didengar.  Dan…berhasil!  Si mbak yang cantik dan menata rambutnya dengan rapi di hadapan kami itu, mendongak…dan menjawab.  “Yang itu mahal mbak…”.  Nah…kok nggak nyambung yah?  Aku dan adel langsung bertukar pandang, bingung euy!

Lalu…”oh gitu…berapa sih mbak?”, sambungku akhirnya.  “Ya…mahal!”, balas si mbaknya dengan ekspresi sebel.  Matanya yang indah langsung memeloti kami.  Dan dia bangkit dari kursinya dan meninggalkan kami berdua yang terbengong-bengong dengan perlakuannya.  Ya Rabb…kami saat itu lagi-lagi hanya bisa bertukar pandang dan menelan air liur.  Keadaannya mulai bisa dimengerti.  Kami dianggap hanya membuang waktu berharga si mbaknya dengan menanyakan barang mahal yang tak mampu kami beli.  Ya, sepertinya itulah persepsi mbak penjual tadi.

Satu per satu aku mulai memperhatikan keadaan sekitar kami.  Toko ini memang besar dan terkesan mewah.  Pegawainya semua berseragam rapi dan berpenampilan menarik.  Perempuan atau laki-laki…semua sama.  Wah, rupanya yang sering kubaca pada kertas lowongan kerja yang ditempel di toko-toko seperti ini bukan omong kosong.  Penampilan menarik benar-benar jadi syarat.

Lalu pengunjung yang datang pun sama.  Bapak-bapak yang duduk disamping Adel tampak perlente.  Dengan sepatu licin dan jas hitam bergaris yang membungkus tubuh besarnya.  Di sebelahnya lagi, seorang eksekutif muda 30 tahunan duduk menyilangkan kakinya dengan nyaman.  Ia sedang mendengarkan penjelasan seorang pegawai wanita cantik yang bicara semanis madu.  Hah…beda sekali dengan perlakuan mbak yang melayani kami kan?  Dan di belakang sana…sepasang suami istri, membawa anak mereka yang berseragam SLTP melihat PC didampingi seorang pegawai laki-laki.  Ia meladeni keluarga itu dengan sabar, memamerkan sederet gigi putihnya bak bintang iklan pasta gigi.  Aku menelan pahit yang tersangkut di hati.

“Keluar yuk…”, akhirnya aku bisa bersuara.  Adel hanya mengangguk lemah dan bangkit dari kursi empuk yang didudukinya.  Aku mengikuti dari belakang.  Di luar hari masih gerimis.  Kami berdiri di samping pintu masuk, lagi…memandangi deretan mobil yang diparkir didepan toko.  Sementara si Ridho (nama sepeda motor Adel) yang butut tampak mengenaskan berada diantaranya.  Lalu kami berbalik, memandangi siluet bayangan kami yang tergambar dikaca toko.  Disana ada dua gadis mengenakan gamis dan kerudung.  Adel…masih memakai jaket basah dan menggendong ranselnya di depan.  Sementara aku sudah melepas jaketku saat masuk tadi, menentengnya ditanganku.  Ya Allah…rupanya kami masuk ketempat ini dengan tampang kayak kucing habis kecebur got, hehe….

Mau tak mau kami meringis.  Beberapa detik kemudian Adel ngomong…”ka, kita nih pretty woman, hehe…”“Hah, Adel bilang apa tadi?  Nggak salah denger tuh?”, batinku.

“Kan si Julia Roberts tuh pengen beli baju di butik.  Padahal sih uangnya ada aja tapi karena penampilannya nggak meyakinkan…jadi dia diusir.  Nah, mirip kan ma kita sekarang?  Hehe…”, Adel masih melanjutkan tawanya.

Sementara aku masih mencerna.  Ya film pretty woman.  Ada ya adegan itu?  Aku ikut tertawa geli setelah berhasil mengumpulkan ingatan yang terserak dan kejadian tadi.  “Iya del, bener-bener pretty woman, hehe…”, sambungku lagi.  Momen itu…kami tertawa bersama.  Bahkan saat mengenangnya sekarang, masih terasa manis asem asinnya.  Menertawakan diri kami sendiri yang berantakan dan kejadian yang memberantakkan hati kami, hehe….

Begitulah kisahnya berakhir.  Pretty Woman versi aku dan Adel ini setidaknya jadi pelajaran buat kami. Wajib membawa jas hujan kapanpun dan dimanapun.  Jadi jika terjadi hujan mendadak seperti kasus itu setidaknya kami tak terlalu mengenaskan.  Dan membawa pakaian ganti saat menempuh perjalanan keluar kota.  Intinya…sedia payung sebelum hujan lah!

Dan kami juga lebih waspada memakai perangkat keluar rumah…jilbab dan kerudung, hehe….  Biasanya yang penting bersih dan disetrika…tapi sepertinya belum cukup.  Jadi mungkin…menyesuaikan padanan warnanya?

Hhhh…masih banyak yang menilai sesamanya hanya dari penampilan luarnya saja.  Standar penilaian yang subjektif, berubah-ubah mengikuti nilai masyarakat di satu tempat dan waktu.  Pandangan hidup materialistik yang mengepung kita saat ini telah melahirkan produk manusia yang terseret arus modernisasi.  Bagaimana tidak, jika manusia atas nama modernisasi mengganti pakaian takwanya dengan pakaian ala barat yang dianggap lebih fashionable.  Aurat diumbar dimana-mana.  Semakin terbuka justru dianggap semakin bagus.  Nilai kesopanan dalam berbusana tidak lagi diperhatikan.  Sementara pakaian takwa identik dengan pakaian orang tua.  Yang muda enggan mengenakannya.  Lebih parahnya lagi bahkan orang-orang tua pun ada yang ikut latah mengikuti trend fashion biar dibilang gaul.  Ironis kan?

Dan atas nama modernisasi pula akhirnya konsumerisme merajalela.  Supaya gaul…belilah produk bermerk.  Bukan sembarang merk tentunya, ini merk terkenal…merk mahal yang bisa menaikkan gengsi jika memakainya.  Prestise digalakkan!  Di dunia seperti inilah kita hidup sekarang, ya kan?

Pepatah jawa memang bilang, Ajining Raga Ana Ing Busana.  Seseorang yang secara penampilan fisik ingin dihargai orang lain atau agar dinilai sebagai orang yang bermartabat tinggi maka ia harus memperhatikan busana yang dikenakannya.  Terutama seorang wanita yang memang secara hukum dan kodratnya merupakan kehormatan yang harus selalu dijaga.  Dan bagiku, ini bukanlah sesuatu yang bebas nilai.

“Dress is powerfull signifier of historical time, age, gender, class, religious and political orientations” kata si Jean Gelman Taylor.  Pakaian adalah kekuatan penanda dari sejarah waktu, usia, gender, kelas, agama dan bahkan orientasi politik.  Nah lho…seorang barat pun punya pemikiran demikian.  Bagaimana dengan para muslimah?

Tentunya penting bagi kita memilih pakaian yang sesuai fitrah kita, yaitu dengan memenuhi standar penjagaan atas kehormatan kita.  Islam telah begitu rinci membahas persoalan ini.  Mulai dari batasan aurat wanita, nama pakaian, bentuk pakaian dan kapan seorang wanita mengenakan pakaiannya dengan bentuk tertentu, kapan pula ia mengenakan pakaian dengan bentuk yang lain lagi di lingkungan yang lain.

Islam telah menetapkan kriteria khusus untuk kaum wanita mengenai busana dan membedakannya dengan kaum pria.  Busana wanita ditetapkan oleh Allah SWT, Tuhan Maha Pencipta dan Pengatur, berdasarkan kodratnya sebagai wanita.  Demikian pula sebaliknya pada pria.  Islam menetapkan Jilbab bagi wanita dan bukan untuk pria.  Menjadikan aurat wanita berbeda dengan aurat pria.  Aurat pria adalah bagian tubuh antara pusar dan lutut, sedangkan aurat wanita adalah seluruh tubuhnya selain muka dan telapak tangannya.

Nah, inilah yang kufahami.  Apa yang terjadi padaku dan Adel kelihatannya tak ada yang melanggar nilai ini.  Kami berdua meskipun tampak lusuh karena kehujanan tapi tak mengumbar aurat yang tak etis untuk dipamerkan.

Lalu pertanyaannya…apakah penilaian kebaikan atau kemuliaan sesorang yang tak lebih hanya kulit luarnya seperti ini patut dipertahankan?  Kayaknya ini bisa kita renungkan bersama.  Mengapa dua mahasiswi kehujanan yang ingin membeli barang diacuhkan sementara pelanggan yang memakai rok mini, tas mahal dan keluar dari mobil mewah dilayani sepenuh hati?

Bukan berarti aku bilang…boleh aja pake pakaian kusut dan bau.  Nggak, biar bagaimanapun Allah kan indah dan menyukai keindahan.  Pakaian bersih dan rapi tak ada salahnya, asalkan syar’ie.  Orang yang melihat enak, yang dilihat pun nyaman.  Hush…harus ghadul bashor ya?  Hehe….  “Lagian kami datang basah kuyup waktu itu kan bukannya sengaja, mbak…”.

Ckckck…bener-bener “pretty woman”.  Ya kan, del?  Hehe….^_^V

2 thoughts on “Pretty Woman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s