GIGI PALSU UNTUK BUNDA

10461632_731289883598513_754939132296432643_nEri baru saja sampai di rumah, masih basah oleh keringat.  Maklum, cuaca akhir-akhir ini sangat panas.  Kemarau lebih panjang dari biasanya.  Mungkin inilah salah satu dampak perubahan iklim seperti yang ramai dibicarakan orang-orang.  Ah, mboh lah…!!!  Yang pasti Eri baru datang dari desa Suka Makmur, tempatnya ditugaskan sebagai bidan desa.  Sebenarnya desa ini hanya berjarak 95 km dari rumah orang tuanya di Pangkalan Bun, salah satu ibukota kabupaten di Kalimantan Tengah.  Namun karena sulit ditempuh lewat jalur darat, maka mayoritas penduduk disana menggunakan speedboat sebagai sarana transportasi utama.  Bagi Eri sendiri, perjalanan lewat jalur air lebih mengasyikkan.  Pemandangannya indah.  Kalimantan terkenal sebagai pulau seribu sungai.  Nah, salah satu sungai besarnya adalah Sungai Lamandau, lebarnya hampir lima puluhan meter.  Sumber air yang tak pernah kering meskipun musim kemarau panjang seperti saat ini.  Di sepanjang sungai itu, hidup berbagai jenis pohon besar & kecil.  Akar-akar gantung berlomba menjuntaikan “ujung-ujung kakinya” ke air.  Monyet kadang terlihat bergelantungan di daerah yang masih “perawan”.  Burung-burung pun asyik mencari mangsa di sungai, tak mengindahkan kami lewat dengan suara ribut yang berasal dari speedboat.  Mungkin sudah terbiasa.  Dan setelah menempuh 2 jam perjalanan, akhirnya sampai di rumah.

Tak ada siapa-siapa di rumah.  Bunda dan Ayah pasti masih di pasar, belanja untuk keperluan jualan Bunda besok.  Hhh…desahan panjang Eri, kasihan melihat Bunda & Ayah.  Masih harus berjuang mencari biaya kuliah Koko, adik Eri.  Anak bandel itu sekarang masih kuliah semester 4 di salah satu perguruan tinggi swasta di Banjarbaru Kalimantan Selatan, jurusan pertambangan.  Tahu sendiri lah, bagaimana mahalnya biaya pendidikan saat ini, terlebih sekolah swasta.  Selesai Eri kuliah, langsung Koko yang menyusul.  Padahal Ayah juga Bunda tak lagi muda.  Ayah sekarang sudah 54 tahun, rambut beliau sudah memutih semua.  Gurat tua karena kelelahan atas kesulitan hidup yang beliau jalani tergambar jelas.  Membuat hati Eri pilu tiap kali memandangi wajah beliau.  Bunda pun sama.  Meskipun lebih muda hampir 11 tahun dari Ayah, bahkan beliau terlihat lebih tua dari Ayah.  Rambut Bunda memang belum seputih Ayah, tapi raut lelah pun tak luput membayang di wajah.  Walaupun Kulit wajah & tangan hangus terbakar terik matahari saat bunda menjajakan dagangan di terminal kota, telapak tangan dipenuhi kapalan akibat mengangkat beban berat & mendorong gerobak barang, namun sisa-sisa kecantikan Bunda masih terlihat.  Senyum beliau masih sama seperti dulu, sangat manis & menyejukkan batin Eri.

Hanya saja, akhir-akhir ini Eri sering merasa serba salah dengan Bunda.  Sudah 3 bulan ini Bunda “merengek” minta dipesankan gigi palsu baru.  Gaji Ayah selalu terpakai untuk biaya bulanan Koko, maklumlah…Ayah kan cuma pegawai negeri biasa dengan gaji cekak.  Itu pun sudah dipotong Bank.  Akhirnya untuk makan dan membayar SPP, uang praktikum serta biaya kuliah lainnya, Ayah dan Bunda terpaksa jualan di terminal kota.  Pagi-pagi sebelum berangkat ke kantor, Ayah mengantar Bunda ke terminal.  Membantu Bunda mendorong gerobak barang, lalu menyusun barang-barang jualan.  Setelah itu Ayah pulang kemudian berangkat ke kantor.  Sepulang dari kantor, beliau hanya singgah ke rumah untuk ganti baju.  Setelah itu langsung menjemput Bunda lagi, mendorong gerobak.  Mereka tak langsung pulang, tapi singgah dulu ke pasar membeli barang-barang yang diperlukan Bunda untuk jualan besok harinya.  Pulang ke rumah sudah mendekati sore, dengan sisa tenaga yang ada masih harus memasak, memcuci dan membersihkan rumah.  Begitulah rutinitas mereka setiap hari, tak peduli panas ataupun hujan.  Usaha harus tetap dijalankan supaya anak-anak mereka bisa mengenyam pendidikan.

Makanya mereka sangat bahagia saat Eri akhirnya lulus kuliah dan bekerja.  Harapan mereka Eri bisa membantu biaya kuliah Koko.  Namun sekali lagi rupanya kondisi mereka tetap seperti itu juga.  Bagi Eri sendiri, menjadi bidan di daerah terpencil dengan gaji pas-pasan membuatnya juga harus mengencangkan ikat pinggang untuk membantu keuangan keluarga.  Karena itu ia memilih untuk tidak menikah dulu.  Takut membiarkan Ayah dan Bunda berjuang sendiri.

Sekuat tenaga, Eri sudah mengusahakan yang terbaik.  Beberapa kali ketika bunda minta gigi palsu, Eri menanyakan biayanya.  Ternyata hampir sebesar gajinya tiap bulan.  Duh, ternyata mahal sekali…batinnya.  Ia hanya bisa bilang, “Insya Allah Bunda…mudah-mudahan Allah memberikan rizki untuk kita beli gigi palsu baru ya….”.  Melihat wajah kecewa bunda, hati Eri pedih….  Tapi bagaimana lagi?  Kemaren dia baru saja membayar biaya perbaikan motor Koko, anak itu tidak bisa berangkat kuliah gara-gara motornya rusak.  Mana akhir bulan lagi, akhirnya dengan pinjam pada seorang teman, motor Koko pun bisa diperbaiki.  Maka awal bulannya Eri harus membayar utang tersebut.  Mana cukup lagi untuk gigi palsu bunda!  Ada sih tabungannya, tapi ia khawatir…siapa tahu ada keperluan mendadak.  Akhirnya ia menelan pahit kekecewaan Bunda yang tak mendapatkan keinginannya.

Bulan berikutnya pun sama saja.  Koko harus bayar uang praktikum & ujian segera, kalau tidak dibayar…bisa-bisa didenda.  Semester lalu Koko sudah didenda gara-gara telat bayar.  Kapok, dendanya hampir sepertiga biaya yang diminta.  Akhirnya Eri merogoh kocek lagi.  Tabungannya bahkan hanya bersisa Rp. 150.000,-.  Sedang uang di tangannya pun hanya cukup untuk biaya speedboat dan makan selama di desa.  Lagi-lagi Eri harus menggigit bibir menyaksikan bunda hanya mengangguk saat Eri bilang, “mungkin bulan depan bunda…”.  Eri tahu, bunda ingin sekali mengganti gigi palsu itu.  “Rasanya sudah tidak nyaman dipakai, setiap kali makan atau ngomong…giginya sering lepas.  Sepertinya sudah longgar.  Maklumlah…terakhir bunda ganti kan waktu kamu masih SMP nduk, lha sekarang kamu sudah kerja…”begitu tiap kali bunda cerita kesulitan beliau dengan gigi palsu tua itu.  Hati Eri perih….

Lagi-lagi harus mengecewakan Bunda.  Mudah-mudahan bulan depan Allah memberikan rizki lebih, batinnya.  Ya Rabb…bantulah hamba membelikan gigi palsu untuk Bunda….

Saat akhirnya Allah memberikan kemudahan pada Eri…bulan ini banyak pemasukan di luar gaji.  Alhamdulillah…batin Eri, ternyata Allah memberikan jalan untuk gigi palsu Bunda.  Tapi tiba-tiba saja terlintas di benaknya, bagaimana nanti jika ada keperluan mendadak lagi?  Tabungannya sudah habis, sebaiknya ia menabung dulu.  Mudah-mudahan bulan depan jika ia menyisihkan separuh gajinya ditambah separuh tabungannya, maka ia bisa mengganti gigi palsu Bunda sekaligus masih punya simpanan dana.  Ah, ya…benar.  Begitu saja baiknya, fikir Eri….  Maka pulanglah dia sekarang ke rumah.  Nanti jika Bunda menagih lagi, insya Allah bulan depan ia akan memenuhi janjinya pada Bunda.  Eri tersenyum….

Sorenya, Bunda datang tergopoh-gopoh mengangkut se-dus minuman kaleng dari atas sepeda motor butut Ayah, sementara Ayah memasukkan motor ke teras.  Eri pun bergegas membantu Bunda.  “Oh, Eri datang ya…?”  Bunda tersenyum melihat anak perempuan satu-satunya itu.  Eri mengangguk, ia segera mengambil alih dus minuman kaleng dari tangan Bunda.  Memasukkannya ke ruang tengah, biasanya Bunda menaruh barang-barang jualan disana.

“Jam berapa datangnya, nduk?”  Tanya Bunda.

“Siang tadi Bunda, mungkin jam dua-an.  Eri berangkat ba’da dzuhur dari sana”  Sahut Eri.

“Sudah makan belum?  Bunda pagi tadi nggak sempat masak, buru-buru berangkat soalnya ngejar kapal.  Jadi cuma ada nasi di rumah.  Ayah juga belum makan tuh….”  Panjang lebar Bunda mengisahkan.

Eri tersenyum, “sudah Bunda, tadi Eri goreng telor ceplok.”  Bunda ikut tersenyum.

Selepas maghrib, “Kapan kamu pulang?” tanya Ayah pada Eri.  Biasa, Ayah pasti mau nyusun jadwal.  Kendaraan di rumah cuma satu, jadi akhirnya Ayah yang harus mengantar semua anggota keluarga jika ingin bepergian, sementara motor tak bisa dibawa.  Kecuali Bunda sudah pulang dari jualan.  “Mungkin lusa, yah….  Soalnya masih ada urusan, kemaren dititipi berkas oleh temen di desa.  Minta tolong disampaikan ke bagian administrasi katanya.”  Sahut Eri.

“Jam berapa?  Nanti kalau kesiangan, biar Ayah izin dulu ke kantor datangnya terlambat.”

“Ba’da dzuhur aja kok, yah.  Jadi sekalian sebelum Ayah jemput Bunda ke terminal.”

“Oh, beres kalo gitu…”  Ayah tersenyum, mengacak-acak kepala Eri yang duduk di depan TV, nonton kartun.  “Anak gadis kok masih nonton kartun?!”  Goda Ayah sambil berlalu.  Eri hanya tersenyum mendengar ledekan Ayah, hehe…kan emang bener!

Sudah tiga hari Eri di rumah.  Aneh, biasanya Bunda akan “merengek” menagih gigi palsu yang dijanjikan Eri.  Tapi ternyata kali ini tidak.  Beliau tak mengungkit gigi palsu sedikit pun.  “Ah, mungkin Bunda faham…nanti juga kalo uangnya sudah terkumpul, Eri pasti belikan.  Sekarang memang sudah ada sih, tapi nantinya Eri jadi tak punya tabungan.  Sabar ya Bunda, insya Allah bulan depan PASTI Eri belikan!!!”  Eri membujuk hatinya sendiri, merasa justru makin serba salah saat Bunda tak lagi menagih janjinya membelikan gigi palsu.  Pagi-pagi saat Bunda bersiap berangkat jualan, Bunda pun masih diam.  Beliau hanya sibuk bercerita tentang Nenek Uning di Banjar.  Kemaren kata Bunda nenek nelfon, menanyakan kenapa Koko jarang main ke rumah.  Bunda cuma bisa bilang, mungkin Koko sibuk.  Semester ini banyak praktikum ke luar daerah.  Yah, maklumlah anak pertambangan.  Apalagi sekarang kan sudah semester 4.  Itu saja!  Eri hanya mendengarkan sambil tersenyum.  Tapi lagi-lagi hatinya justru makin tak karuan.  Rasa bersalah tiba-tiba hinggap di hatinya.  “Bunda, maafkan Eri…”, batinnya.  Eri memeluk Bunda, “Bunda, Eri sayang banget sama Bunda…”,ucap Eri.  Bunda tertawa, mencium pipi Eri, “Iya, Bunda tahu.  Eri pasti ada maunya!”, Bunda membuka salah satu kardus barang-barang jualan yang dibeli dari pasar kemarin, lalu mengeluarkan susu stroberry kesukaan Eri.  “Nih, dapat jatah satu….  Hati-hati nanti di jalan ya….  Tuh di atas meja sudah Bunda siapkan bekal buat kamu bawa.  Ada sayur, bawang, gula sama sambel goreng ati kesukaanmu.”  Eri hanya mengangguk.  “Makasih ya Bunda….”.  Saat Bunda & Ayah berangkat, Eri menggenggam erat susu stroberry-nya.  Menangis….  Bunda, Eri memang ada maunya.  Tapi bukan susu stroberry ini.  Eri mau minta maaf, sekarang belum bisa memenuhi keinginan Bunda mengganti gigi palsu….  Hati Eri perih lagi….

Jam sudah menunjukkan pukul 13.45 WIB saat Ayah mengantar Eri ke pelabuhan speedboat.  Pasti sampai ke desa sudah sore, batin Eri.  Sepanjang perjalanan, ia merasa tak tenang.  Bunda yang tak mengungkit janjinya justru membuat Eri resah.  Biasanya ia dengan mudah menikmati pemandangan tepi sungai Lamandau yang elok.  Hijau dan sejuk.  Tapi kali ini rasanya tak sama.  Wajah kecewa Bunda beberapa bulan yang lalu melintas di benaknya.  Rasa bersalah menggumpal di dadanya.  Semakin bertambah detik waktu…semakin bertambah besar gumpalan rasa bersalah itu.

Begitu sampai di tempat tugas pun sama.  Malam-malam ia sering terbangun, mimpi melihat Bunda yang sedih karena Eri tak memenuhi janji.  Eri menangis sesenggukan, ia merasa gumpalan itu menghimpitnya.  Rasa bersalahnya menggunung.  Bukankah ia sudah dimudahkan Allah untuk memenuhi “keinginan” Bunda?  Tunggu, benarkah itu hanya sekedar “keinginan” Bunda?  Jangan-jangan Eri meremehkannya karena salah memahami.  Bukankah Bunda seringkali mengeluh bahwa gigi palsu itu sudah longgar dan tak nyaman lagi dipakai?  Bukankah Eri juga tahu bahwa Bunda terakhir kali mengganti gigi palsu saat dia masih SMP?  Bukankah itu sudah lama sekali?  Wajar bukan jika gigi itu sudah aus?  Isak Eri semakin kencang….  Duhai Bunda, apa yang sudah Eri lakukan?  Mengapa Eri begitu banyak pertimbangan hanya untuk memenuhi “kebutuhan” Bunda?  Padahal…Eri masih bisa melakukannya!

Tiba-tiba terlintas sebuah cerita tentang gigi palsu itu!  Dulu, Bunda punya gigi yang bagus.  Ayah saja jatuh cinta pada Bunda karena melihat senyum Bunda yang indah, gigi Bunda putih berderet rapi.  Menambah cantik raut Bunda yang kuning langsat.  Saat Eri berumur dua tahun, Bunda mendudukan Eri di dekatnya, menemani bermain.  Entah bagaimana, saat ia tiba-tiba menginginkan sesuatu tapi Bunda tak bisa segera memenuhinya…tangan mungil Eri yang saat itu memegang bedak bayi tiba-tiba memukulkannya ke wajah Bunda.  Badan bedak bayi itu terbuat dari kaleng, maka ketika menghantam wajah Bunda…mengenai gigi Bunda,  ada 4 gigi Bunda yang patah dan semua adalah gigi seri atas.  Eri yang mematahkannya.  Kata Ayah, Bunda menangis tanpa suara karena menahan sakit.  Bibir Bunda bengkak berhari-hari.  Tapi Bunda tak marah dengan Eri….  Padahal Eri kecil sudah jahat sekali, sudah berani menyakiti Bunda….  Tubuh Eri makin terguncang menahan isak tangis.  Duhai Bunda, maafkan Eri….  Maafkan Eri….  Maafkan Eri….

Eri bangkit dari ranjang, mengambil air wudhu…shalat!  Sekarang masih pukul dua subuh.  Ia ingin mengadu pada Allah…betapa ia telah berlaku tak baik pada Bunda.  Ia ingin pulang….  Padahal ia baru datang seminggu dari Pangkalan Bun, tapi ia tak ingin menunda lagi memenuhi janjinya pada Bunda!  Ia ingin segera memesankan gigi palsu baru untuk Bunda.  Biarlah, ia tak peduli lagi jika tak punya uang tabungan.  Ia yakin, Allah tak akan menelantarkan hamba-hambanya.  Beberapa kali diliriknya jam di tangan, menunggu shalat subuh dan hari agak terang, ia akan memacu sepeda motor dinasnya secepat mungkin menuju pelabuhan.  Naik speedboat, lalu pulang.  Nanti pinjam motor Paman Hanif, tetangga rumah buat menjemput Bunda di terminal.  Biar saja hari ini Bunda tak usah jualan.  Hari ini Eri dan Bunda pergi ke tukang gigi saja, mengukur gigi palsu baru untuk Bunda.

Pukul 08.30 WIB, Eri sampai di rumah.  “Kok, banyak orang di rumah ya?”, batin Eri.  Perasaan tak enak menyeruak, memenuhi rongga paru-paru Eri.  “Ada apa?”, tanya Eri pada orang-orang di depan rumah.  Mereka terkejut melihat Eri.  Bibi Evi, istrinya paman Hanif tetangga rumah yang ingin dipinjam motornya oleh Eri menarik tangannya.  Eri menurut.  Bibi Evi membawa Eri masuk lewat pintu belakang, menyuruhnya duduk di kursi makan.  “Kenapa bi?  Ada acara apa sih ini?”, Eri bertanya bingung.  “Nduk…Bundamu…sudah dipanggil sama Allah…”, suara lembut bibi Evi bagaikan petir di siang bolong buat Eri.  “Bunda…”, Eri menangis….  Kakinya seperti melayang, tapi dipaksanya berdiri dan melangkah ke ruang tengah.  Dilihatnya…sebujur tubuh kaku milik Bunda tertutup selembar kain.  Diseretnya kaki mendekati….  Ketika Ayah melihatnya, Ayah membukakan kain penutup itu untuk Eri.  Wajah Bunda pucat, tak bernafas….  Duhai Allah….  Bundaku….  “Bunda, Eri jauh-jauh datang ingin mengajak Bunda memesan gigi palsu baru…” Allah, tak bisakah Eri dapat kesempatan kedua untuk membahagiakan Bunda???  Allahu Akbar….

Bunda…kau lakukan apa saja untuk membuatku bahagia…

Tanpa berfikir masih ada tabungan atau tidak, kau belanjakan uangmu untuk keinginanku…

Tapi aku…aku bahkan selalu berfikir dulu untuk memenuhi kebutuhanmu…

Bunda, maafkan anakmu!!!

Epilog :

“Mbak…mbak….”  Tubuh Eri seperti diguncang seseorang.  Perlahan, Eri membuka matanya.  “Mbak, mbak…nggak papa?”, seorang wanita berumur 30 tahunan bertanya pada Eri.  Eri masih bingung, “Ya…”, sahutnya tak yakin.  Ia bingung sedang dimana sekarang.  Dipandangnya sekelilingnya, lho?  Tambah bingung!

“Mbak tadi pas ketiduran ngigau sambil nangis mbak….  Makanya saya sama penumpang yang lain pada bingung!  Mbak sesenggukannya bikin kami sedih, pake’ manggil-manggil Bunda segala…”, jelasnya.

Oalah…Eri ternyata mimpi tho?  Gara-gara tak bisa tidur beberapa hari ini memikirkan janji pada Bunda, dia tertidur di speedboat!  Berarti…”Alhamdulillah….” Ucap Eri sambil berdiri kegirangan!

Tapi ia langsung duduk lagi, malu…penumpang speedboat yang lain tambah bingung.  “Cah uedan!!!  Bikin khawatir saja”, seorang nenek mengomentari Eri, hehe…

“Lanjut pak sopir, bu bidan rupanya ngelindur…”, ujar ibu-ibu yang membangunkan Eri tadi.

Ternyata, mereka spesial menghentikan jalannya speedboat karena khawatir melihat Eri menangis dalam tidur….

Bunda, tunggu Eri ya….  Insya Allah kita pergi memesan gigi palsu baru.

Senyum indah Bunda terbayang di pelupuk mata Eri.  Tak setiap orang diberi kesempatan kedua oleh Allah untuk berbuat kebaikan pada orang tuanya.  Eri merasa sangat beruntung….

Allaahummaghfirlii waliwaalidayya…..

Warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa….

*Cerpen ini dipublikasi di Rubrik Cerpen Pembaca Kawan Imut.  https://www.facebook.com/IloveOriginalKawanimut/photos/a.168379236556250.41209.141421482585359/731289883598513/?type=1&relevant_count=1&__mref=message

2 thoughts on “GIGI PALSU UNTUK BUNDA

  1. MENONE berkata:

    kasih bunda emg tiada banding sobat……

    MENONE sekeluarga mengucapkan “MINAL AIDZIN WALFAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN”………. Salam juga buat keluarga, semoga kita semua selalu dalam lindungan ALLAH SWT….. amin3x

    Salam persahabatan selalu dr MENONE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s