SAY NO TO HIV/AIDS WITH ISLAM

Standar

Hohoho…sejak akhir November kemaren sampai setidaknya hari ini, perbincangan tentang peringatan hari AIDS sedunia masih mengalir hangat. Mulai dari komisi penanggulangan AIDS yang memang selalu menyibukkan diri dalam pemberantasan HIV/AIDS ini hingga televisi yang menayangkan talkshow atau sekilas info peringatan hari AIDS nasional maupun mancanegara. Tua, muda, di berbagai kesempatan dan media…semua pada ngomongin HIV/AIDS ini. Tak lupa pula beberapa acara digelar meriah dalam rangka memperingatinya. Entah dengan mengadakan dialog-dialog dengan sasaran remaja dan dewasa, atau hanya sekedar melepas balon berpita merah lalu memegang banner atau spanduk bertuliskan rasa peduli mereka.

Yup, hari AIDS sedunia yang diperingati rame-rame pada tanggal 1 desember ini seolah menjadi momen bagi setiap orang tak terkecuali di Indonesia untuk ikut peduli pada HIV/AIDS. Bagaimana tidak? Sejak penyakit HIV/AIDS diidentifikasikan pada 1983, HIV/AIDS telah menjadi problem kesehatan utama di dunia hingga saat ini. WHO pada 2003 mengestimasikan 37,8 juta orang terinfeksi HIV/AIDS. Pada 2005, akhir estimasi menjadi 53,6 juta (UNAIDS report 2006). Dan pada 2007 estimasi menggunakan perhitungan baru dengan jumlah 33 juta penderita, tetapi yang sudah meninggal 23 juta orang (UNAIDS report 2008). Data ini menjadikan AIDS sebagai penyakit pemusnah yang paling dahsyat dalam seluruh catatan sejarah.

Bagaimana dengan kita di Indonesia? Saat ini, jumlah penderita kasus baru AIDS pada triwulan II tahun 2011 di Indonesia mencapai 6.087 orang, sehingga secara kumulatif sampai dengan bulan Juni 2011 tercatat jumlah kasus AIDS sebanyak 26.483 orang (tribunkalteng).

Wow…peningkatannya sungguh luar binasa! Mengapa terus bertambah? Pertanyaan ini rasanya layak hinggap dibenak kita. Dari tahun ke tahun telah dilakukan berbagai upaya penanggulangan epidemi HIV/AIDS. Biaya yang digelontorkan untuk menyukseskan program penanggulangan ini pun tak sedikit. Lalu mengapa tak ada hasil berupa berkurangnya perubahan angka penderita HIVAIDS secara signifikan???

Tanya kenapa??? Jangan-jangan ada yang eror dari kebijakan penanganan epidemi HIV/AIDS selama ini? Nah lho…???

Hingga saat ini, secara umum penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia dan Negara-negara lainnya di dunia masih mengadopsi strategi yang digunakan oleh UNAIDS dan WHO. Apakah itu???

Pertama…kondomisasi alias obral kondom. Kampanye penggunaan kondom dengan berbagai macam slogan itu bukan menyelesaikan masalah, justru menambah jumlah penderita HIV/AIDS. Lho…kok bisa? Ya iyalah, kan kondom terbuat dari bahan latex (karet) yaitu suatu senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi. Ini artinya…kondom mempunyai serat dan pori-pori! Jika kita gunakan mikroskop elektron, maka akan terlihat tiap pori berukuran 70 mikron, yaitu 700 kali lebih besar dari ukuran HIV-1 yang hanya berdiameter 0,1 mikron.

Para pemakai kondom ini lebih mudah terinfeksi atau menularkan karena selama proses pembuatan kondom kadangkala terbentuk lubang-lubang alias bolong. Rupanya bahan pembuatan kondom ini sangat sensitif terhadap suhu panas dan dingin. Akhirnya 36-38% kondom yang sudah diproduksi tadi sebenarnya sudah tidak layak digunakan.

Maka alih-alih menyelamatkan dari bahaya HIV, kondomisasi ini justru mendorong masyarakat melakukan seks bebas dan mempercepat penyebaran HIV/AIDS. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan laju infeksi sehubungan dengan kampanye kondom 13-27% lebih. Jelaslah sudah, kondomisasi justru menjadi pintu masuk liberalisasi seks. Dan masalah pun terus berlanjut!

Kedua, substitusi metadon dan pembagian jarum suntik steril. Berdasarkan cara penularannya kasus AIDS kumulatif melalui Heteroseksual 54,8%, IDU 36,2%, pasangan gay 2,9%, Perinatal 2,8%, transfusi darah 0,2% dan tidak diketahui 3,0%. Nah, selain penularan akibat seks beresiko (penyakit dan murka Allah SWT), HIV/AIDS juga menular lewat jarum suntik bergantian dikalangan IDU. Hal ini ternyata dijadikan alasan untuk memberikan jarum suntik steril dan substitusi metadon bagi penyalahguna NARKOBA suntik.

Strategi substitusi metadon dalam bentuk Program Terapi Rumahan Metadon (PTRM) dan pembagian jarum suntik steril telah menjadi salah satu layanan di rumah sakit, puskesmas atau klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing). Dengan kemudahan fasilitas ini para penasun (pengguna NARKOBA suntik) dapat mengakses jarum suntik dan metadon dengan harga murah yaitu sekitar Rp.7500/butir. Ckckck…parah!

Upaya ini jelas tak akan mengurangi resiko penularan HIV/AIDS di kalangan IDU. Malah justru membahayakan karena substitusi metadon tetap akan menimbulkan gangguan mental. Bukankah metadon juga memiliki efek adiktif?

Selain itu pemberian jarum suntik steril pada penasun juga merupakan strategi absurd. Coba kamu bayangkan…saat seorang pemakai sedang “on” atau “fly” karena efek narkoba suntik tersebut, mungkinkah mereka masih sadar untuk tidak berbagi dengan teman senasibnya?

Dan fakta juga menunjukkan bahwa peredaran narkoba di masyarakat berlangsung melalui jaringan mafia yang tertutup, rapi dan tak tersentuh hukum. Jaringan mafia ini biasanya bersifat internasional dan terorganisir. Sekali masuk perangkap mereka maka akan sulit untuk melepaskan diri. Terlebih lagi dalam kondisi lemahnya ketakwaan dan himpitan ekonomi yang semakin berat, siapa yang bisa menjamin para pelayan penasun tak “main mata” dengan mafia narkoba?

So…jelaslah bahwa kedua strategi tersebut justru menyelesaikan masalah dengan masalah!

Kehidupan dengan paradigma sekuler-liberal telah menjadikan manusia-manusia di muka bumi ini bebas berbuat sekehendak hatinya. Dengan dalih kebebasan berekspresi atau berperilaku, seks bebas dianggap urusan individu yang tak perlu diurusi oleh individu lainnya. Yang penting…lakukan seks yang bertanggungjawab, demikian dalilnya! Hedeh, dunia seperti ini keterlaluan! Saat berbuat salah tak mau ditegur…eh, giliran sudah terjangkit penyakit minta semua orang peduli. Padahal dipedulikan dari awal alias dicegah malah ogah. Ckckck….

Say No to HIV/AIDS = Say No to Free Sex

Jadi mbak, mas, om, tante, etc…jika kita ingin menuntaskan penularan HIV/AIDS ini otomatis harus dimulai dari hulu, alias penyebab utama penyakit ini mewabah di dunia. Kita sama-sama tahu dong bahwa transmisi utama atau media penularan utama penyakit HIV/AIDS ini adalah seks bebas. Makanya hindarilah seks beresiko ini! Resikonya berat lho…di dunia, kena penyakit sementara di akhirat mendapat murka Allah SWT.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (TQS. Al Isra’ : 32).

Hiyyy…serem kan? Makanya beralihlah dari gaya hidup jahiliyah pada gaya hidup Islam. Gimana caranya? Pertama…bunuh semua bentuk mindset permisif di tengah masyarakat yang membuat manusia terjerumus pada jurang kehancuran. Kyaaaa….bahasanya sadis yah? Hehe….^_^V

Maksudnya…jangan lagi tuh dibudidayakan ide permisif, bahayanya kan sudah jelas? Jadi ngapain lagi kita pertahankan?! Ya kan?

Inilah yang bisa kita lakukan sebagai individu…menyetting ulang pemikiran kita yang awalnya eror akibat sistem sekuler-liberal menjadi sistem Islam. Memang cakupannya sangat terbatas. Perlu langkah selanjutnya untuk bisa menuntaskan masalah ini hingga ke akar-akarnya.

Apa selanjutnya? Perjuangkan sistem hidup Islam yang sudah kamu setting dalam pemikiranmu tadi menjadi kenyataan. Sebuah sistem yang tentu saja menerapkan syariat Islam secara menyeluruh. Politiknya, ekonominya, hubungan sosialnya…diatur sesuai dengan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya.

Hanya dengan kekuatan sistem Islam yang direpresentasikan oleh sebuah negara, Khilafah Islam lah yang mampu memutus rantai penularan HIV/AIDS. Khilafah Islam akan melakukan upaya pencegahan sekaligus pengobatan bagi yang sudah tertular. Upaya pencegahan dilakukan secara internal maupun eksternal.

Secara internal, Khalifah (kepala negara) akan menerapkan Islam kaffah. Sistem pendidikan Islam ini akan membentuk individu yang berkepribadian Islam, sistem ekonomi juga akan mensejahterakan semua orang. Oleh karena itu, perzinahan termasuk berduaan tanpa ada kepentingan yang diperbolehkan syariat akan dilarang dan dijatuhkan sanksi bagi pelanggarnya.

“Jangan sekali-kali seorang lelaki dengan perempuan menyepi (bukan muhrim) karena sesungguhnya syaitan ada sebagai pihak ketiga” (HR. baihaqi).

Khalifah juga akan menindak tegas para pelaku homoseks karena Allah SWT mengutuk perbuatan ini.

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya : “Mengapa kamu melakukan perbuatan kotor itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun manusia (di dunia ini) sebelummu? Seseungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas” (TQS. Al A’raf : 80-81).

Tak lupa juga melarang pria-wanita melakukan perbuatan yang membahayakan akhlak dan merusak masyarakat seperti pornografi dan pornoaksi, menindak tegas pelaku kemaksiatan (ex : rajam bagi pezina muhsan), mencegah keberadaan barang-barang haram yang dapat merusak generasi seperti khamar dan narkoba. “Setiap yang menghilangkan akal itu adalah haram” (HR. Bukhori-Muslim).

Secara Eksternal, Khilafah Islam akan melepaskan diri dari kebijakan-kebijakan lembaga internasional seperti WHO, UNAIDS atau NODOC yang terbukti semakin menguatkan ancaman HIV/AIDS dan seks bebas.

Jadi…sebanyak apapun manusia peduli setiap tahunnya tetap takkan ada perubahan berarti jika manusia-manusia tersebut tetap mempertahankan gaya hidup sekuler-liberalnya. Hanya dengan perilaku yang sesuai dengan syariat Allah SWT sebagai pencipta dan pengatur lah maka manusia akan selamat. Baik di dunia maupun di akhirat tentunya…. So, let’s back to Islam!!! ^_^

»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s